Menjadi Moderator AGTI Indonesia Banking School 2018

3:38 AM


Dr. Vivid F. Argarini menjadi moderator dalam Accounting Goes to Indonesia Banking School (AGTI IBS), Sabtu (17/11/2018). Kegiatan tahunan terbesar Himpunan Mahasiswa Akuntansi IBS ini menghadirkan narasumber dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Negara Indonesia (BNI).


AGTI kali ini telah memasuki tahun ke-9 penyelenggaraan, dan mengangkat tema "The Roles of Professional Accountants in Minimizing The Fraudness Problems in Digital Era". Tak hanya mahasiswa IBS yang antusias, tetapi hadir pula dari beragam kampus lain bahkan murid-murid SMA.


Pada sesi pertama seminar, Vivid memandu pemaparan materi dan diskusi bersama Penyidik Senior OJK, Bapak Teguh B. Rustanto, SE, SH, MH, dan Pimpinan Divisi Solusi dan Keamanan Teknologi Informasi BNI, M. Faisal Jazuli, S. Kom, MBA. Sesi ini membahas "Peranan Accounting Digital dalam Mengatasi Fraud di Indonesia".

Bersama narasumber Penyidik Senior di OJK, Teguh B. Rustanto (tengah) dan Pimpinan Divisi Solusi dan Keamanan Teknologi Informasi Bank Negara Indonesia, M. Faisal Jazuli (kanan).
Bersama Bapak Dr. Sparta, S.E., Ak., M.E., C.A., Wakil Ketua I - Asst. Professor
Peserta diajak mengenal lebih dalam apa itu fraud yang kerap terjadi di dunia perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Kedua narasumber menguraikan apa saja yang mendorong terjadi pelanggaran atau kecurangan ini, upaya mencegah dan mengatasinya, serta hukum yang mengaturnya. 


Pak Teguh memaparkan apa saja kriteria suatu tindakan disebut fraud, dasar-dasar hukumnya, serta pengalamannya di OJK menangani perkara-perkara. "Tantangan ke depan antara lain di fintech. Potensi semakin besar fraud ada di perizinan. Saat ini lebih dari 200 entitas belum mendapat izin," tutur Pak Teguh yang juga berpengalaman sebagai Penyelidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini.

Bersama Ketua IBS, Bapak Dr. Subarjo Joyosumarto, SE., MA, (tengah), kedua narasumber dan tim BNI
Dari sisi dunia perbankan, peserta memperoleh banyak wawasan dari Pak Faisal. Lulusan S2 bidang Bisnis ITB ini menjelaskan, di era digital resiko fraud semakin berkembang antara lain di sisi nasabah dan penyedia jasa IT. "Bank-bank telah memperkuat pengamanan saat transaksi, namun ibarat benteng data adalah firewall, secanggih apapun akan jebol sebab yang diserang kemudian adalah orangnya. Maka perlu peningkatan awareness semua pihak," tutur Pak Faisal.

Tarian oleh mahasiswi IBS memeriahkan acara
Usai pemaparan kedua narasumber, Vivid menyapa peserta terutama selain 'tuan rumah'. Antara lain dari Universitas Nasional, Universitas Pamulang, UIN Syarif Hidayatullah, serta siswa-siswi Global Islam School. Peserta kemudian penuh semangat mengajukan pertanyaan. Ada yang tanya seputar peran digitalisasi meningkatkan efektivitas anti fraud, peran profesi akuntan, peran auditor eksternal, fraud alam kredit yang dikeluarkan bank-bank, seputar fintech, dan banyak lagi. 


Usai sesi pertama ini, peserta mengikuti sesi kedua bertema "Pemanfaatan Akuntansi dalam Mengatasi Masalah Fraud yang Terjadi di Indonesia". Seminar ini dibuka Ketua IBS, Bapak Dr. Subarjo Joyosumarto, SE., MA, yang berpesan bahwa mahasiswa perlu banyak menambah skill yang tak diperoleh di perkuliahan. "Skill adalah pembelajaran yang out of the box, yang tidak linier seperti di kelas. Dengan mencari pengalaman, mahasiswa akan tahu kehidupan (dunia kerja) yang sebenarnya," tutur Pak Subarjo.  

Bersama panitia yaitu para mahasiswi IBS

You Might Also Like

0 comments