Pelatihan Strategi Komunikasi Kode Etik Pegawai di Kementerian Keuangan

12:28 AM


Kementerian Keuangan Republik Indonesia terus membekali personelnya dengan kelas-kelas capacity building. Bagian Kepatuhan Internal Direktorat Jenderal Perbendaharaan menggelar pelatihan "Pengelolaan Pengaduan dan Penerapan Kode Etik" menghadirkan pembicara Dr. Vivid Fitri Argarini, Kamis (8/9/2016).

Dok. Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan
Kepala Bidang Supervisi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dan Kepatuhan Internal Kanwil Ditjen Perbendaharaan, Bapak AA Gunawan membuka acara yang diselenggarakan di Aula Gedung Yusuf Anwar komplek Kemenkeu di Jalan Lapangan Banteng Timur ini. Dituturkannya, bagian Kepatuhan Internal bertugas menegakkan dan memantau pelaksanaan kode etik, tugas yang cukup sensitif karena terkait hubungan antar sesama.

vivid argarini kementerian keuangan
Dok. Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan
"Kami tak ingin menjadi simbol yang hanya merekomendasikan hukuman. Tetapi juga membuat (semua pegawai) lebih memahami kode etik secara dalam. Untuk itu kami ingin mendengar pendekatan lain tentang bagaimana memahaminya. Bukan yang normatif. Maka kami mengundang narasumber luar untuk mendengar dari sudut pandang berbeda," tutur Bapak Gunawan.

Kepala Bidang Supervisi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dan Kepatuhan Internal Kanwil Ditjen Perbendaharaan, Bapak AA Gunawan
Peserta pelatihan adalah pejabat dan pegawai Bagian Kepatuhan Internal, dan juga perwakilan pejabat dari Direktorat di lingkup Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan. Vivid memberikan materi "Work Ethic and Your Career" dan "Communication Skill: Strategi Terapkan Kode Etik". Peserta diajak mengenal beragam strategi komunikasi informal untuk lebih memahami personel yang dipimpinnya, sehingga pesan yang disampaikan akan mengena.

Dok. Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan
Beberapa peserta mengungkapkan bagaimana engagement mereka dengan para stafnya, antara lain Bapak Bani dari Direktorat PPK-Badan Layanan Umum yang memimpin tim dari beragam generasi termasuk kelahiran 1960-an dan 1970-an. "Ada pegawai yang memang sangat dekat dengan saya, ada juga yang tidak. Tapi bukan berarti yang tidak dekat itu tidak berkontribusi baik. Dengan yang muda-muda, saya tidak tersinggung jika misalnya mereka izin secara informal untuk keluar sebentar," tutur Pak Bani yang memiliki empat staf, yang masing-masing memimpin beberapa staf lagi.

Bapak Bani (tengah) dari Direktorat PPK
Vivid mengingatkan peserta yang semuanya pemimpin ini untuk dapat engage dengan subordinates. Terkadang pimpinan merasa paling tahu tentang timnya, padahal mungkin saja bawahan kerap menggunjingkan. "Jangan dikira anak buah tidak membuat WA group sendiri tanpa mengikutsertakan atasan. Maka secara berkala pemimpin perlu refleksi diri, misalnya apa benar perlu bawahan di-punish sedemikian keras, atau jangan-jangan cara men-transfer values belum mengena," tutur Vivid yang mempelajari Komunikasi dan Sosiologi di University of Wisconsin-Whitewater, Amerika Serikat ini.

vivid argarini kementerian keuangan
Bapak Eko dan Bapak Iman Santosa
Salah satu peserta, Bapak Eko mengungkapkan pengalamannya 'menemukan' WA group anak buah. "Grup itu asalnya ajang curcol para staf, lalu ketauan oleh saya. Mendengar aspirasi di 'bawah' ini memang 'gila'. Komunikasinya lebih cair, kadang lebih efektif, lebih kooperatif dalam menyelesaikan masalah," tuturnya. Diakuinya komunikasi informal yang tak ada sekat atasan-bawah, bahkan kadang tidak mengindahkan etika, justru lebih efektif. "Maka sulit bagi saya untuk tahu kapan saya harus menerapkan etik. Karena di satu sisi saya harus berperan sesuai posisi, di sisi lain saya harus memastikan yang diamanahkan posisi saya itu tetap berjalan," imbuhnya.

vivid argarini kementerian keuangan
Dok. Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan
Vivid menekankan, pemimpin harus menguasai the "Know How to Communicate" dan memberi contoh pada subordinates. Dalam membimbing tim untuk selalu beretika saat berkomunikasi, setiap pimpinan adalah role model. Device boleh saja berganti yakni komunikasi atasan-bawahan di era sekarang banyak melalui WA group. Namun cara penyampaiannya tetap harus dengan sopan santun.  
"Atasan-bawahan bergaul akrab boleh saja. Berinteraksi cair di WA group, namun positioning dan standing itu perlu. Tetap bawahan tahu bahwa sedang berinteraksi dengan atasan walaupun itu di group," tegasnya.

Menjunjung etika saat berkomunikasi di dunia maya antara lain dengan menulis pesan dengan lengkap. Tidak disingkat-singkat. "Menulis Bapak ya lengkap, bukan Bpk. Memangnya Badan Pemeriksa Keuangan? Menulis terima kasih jangan disingkat Tk, Memangnya TK, SD, SMP... Hahaha...," tutur Vivid.

Doktor Manajemen Pendidikan ini juga mengingatkan, bahwa sebagai pemimpin perlu konsisten untuk breeding human resources. "We are empowering our subordinates. Tim kita harus bisa lebih berkarya. Kalau kita maju, bawa juga 'gerbong' kita. Tidak maju sendiri," tegasnya.


Usai acara, Bapak Budyono dari KPPN Jakarta VII yang menjabat Kepala Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal berkomentar, "Penjelasan di pelatihan ini memang tidak secara langsung mengenai kode etik di Kemenkeu, namun motivasi Bu Vivid sangat bermanfaat. Dan kami berniat melaksanakan apa yang kami terima ini, terutama memotivasi staf kami. Bahwa kemajuan teknologi dimanfaatkan, tapi etika tetap diterapkan, nilai kita pertahankan," tutur Pak Budyono yang memiliki lima staf terdiri dari customer service officer, bagian pelaporan, supervisor dan kepatuhan internal, berkantor di kawasan Otista.

Bapak Budyono
Bapak AA Gunawan menambahkan, pelatihan ini memberi perspektif lain strategi penerapan kode etik, yang akan menjadi bahan bagi unitnya untuk berusaha lebih smooth berkomunikasi agar pesan lebih dapat diterima. "Gaya komunikasi Ibu Vivid juga sangat bagus, yaitu dengan tone yang tegas membuat kami terus fokus dan mencermati dari awal sampai akhir," pungkasnya.

vivid argarini kementerian keuangan
Dok. Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan

You Might Also Like

0 comments