Pelatihan Menulis - Studi Jurnalistik SMP Labschool Jakarta

7:22 PM

vivid fitri argarini smp labschool jakarta

Dr. Vivid Fitri Argarini mengajar murid-murid SMP Labschool Jakarta berlatih menulis, modal dasar menjadi jurnalis. Kak Vivid menerapkan student centered class dengan aktif menghampiri tiap murid untuk mengoreksi tulisan mereka.

vivid fitri argarini smp labschool jakarta

Kelas ini merupakan bagian dari acara "Studi Jurnalistik 2016" yang digelar SMP Labschool, Sabtu pagi (24/9/2016). Sekolah yang berlokasi di Rawamangun, Jakarta ini mengusung tema "Belajar Jurnalistik dengan Cara Asyik" untuk memberi bekal pada murid-murid yang tergabung di majalah sekolah, Gema.

Untuk berlatih menjadi jurnalis melalui majalah sekolah, kemampuan menulis adalah yang utama. Nah, menulis dengan gramatikal yang benar memang perlu dilatih sejak dini yakni mulai usia SMP seperti para peserta ini. 
 

Kak Vivid mengajak peserta praktik menulis dengan tata kalimat yang mudah dimengerti, komunikatif, dan ejaan yang benar. Ada empat latihan yang diberikan.  

Pertama, latihan fokus menyimak dan menulis. 
Kak Vivid menuturkan satu paragraf yang terdiri dari sekitar lima kalimat, dan meminta peserta menuliskannya. Murid diajak fokus menyimak apa yang diungkapkan narasumber, agar tidak tertinggal pesan yang harus ditulis. Kak Vivid lalu menghampiri peserta untuk mengoreksi tiap tulisan.

Kedua, latihan menulis kata pasif dan aktif.
Kak Vivid menyebutkan kata-kata dan peserta berlatih menuliskannya dengan tepat, seperti 'dijual, 'dikontrakkan', 'di sekolah', 'di rumah', 'dinyalakan', 'disapu'.  
"Cermati cara menulis 'di' sebagai kata depan dan 'di' sebagai awalan. Yang betul 'dijual'. Bukan 'di jual'. Penulisan 'di' sebagai prefiks disambung. Sedangkan 'di' sebagai kata depan dipisah, misalnya 'di rumah'," tutur Kak Vivid.


Latihan ketiga, berimajinasi dan menuliskannya.
Kak Vivid menunjukkan sebuah foto hitam putih sekelompok anak dengan beragam ekspresi. Peserta bebas menginterpretasikan apa yang terjadi di balik foto itu, lalu menuliskannya menjadi satu paragraf atau lebih. 

Kak Vivid menghampiri tiap murid dan mengoreksi tata kalimat dan tanda baca. Dengan bolpen merah, ditandainya tiap kalimat yang sudah benar dan yang masih salah, sehingga peserta mengerti cara menulis yang baik. Imajinasi mereka seru-seru!

Latihan keempat, membuat judul yang atraktif.
Dari sebuah foto berwarna menampilkan remaja putra dan putri, peserta diminta berimajinasi lagi, kali ini untuk membuat judul. Judul harus singkat, atraktif dan punching sehingga menarik orang untuk membaca. 

vivid fitri argarini smp labschool jakarta

Dengan menerapkan student centered learning, empat latihan tersebut dapat Kak Vivid selenggarakan dalam sesi yang hanya 90 menit. Dalam kelas dengan format duduk melingkar, Kak Vivid sebagai pengajar tidak duduk di depan menunggu hasil tulisan semua murid selesai lalu dikumpulkan padanya. Melainkan selalu mobile menghampiri murid dan mengoreksinya saat itu juga.  

Mengajar dengan pendekatan 'jemput bola' ini tak hanya dapat diterapkan pada kelas kecil seperti ini saja. Tapi juga di kelas besar dengan membagi murid dalam beberapa kelompok. Guru aktif menghampiri tiap kelompok untuk mengoreksi langsung karya mereka.

vivid fitri argarini smp labschool jakarta

Kak Vivid telah menjadi mentor untuk majalah Gema sejak 2002. Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini boleh dibilang telah bersahabat dengan kawan-kawan Labschool melalui pelatihan-pelatihan yang engage, dan terlibat di beberapa acara sekolah. Juga ketika Kak Vivid aktif di majalah remaja Aneka Yess!, keduanya kerap menjalin kerja sama untuk pentas seni dan beragam kegiatan.

"Gedung yang kalian gunakan ini tergolong baru. Sekolah kalian sempat mendapat pemberitaan luas ketika gedung ini terbakar tahun 2008. Saat itu saya langsung menengok, meluncur dari kantor saya di di Jalan Salemba yang memang tidak terlalu jauh dari sini," kenangnya. 


You Might Also Like

0 comments