Diskusi di Museum Tekstil : Berkelanjutan Lestarikan Semangat Shima

8:22 AM


Icon pemimpin perempuan dari abad ke-7 Masehi, Ratu Shima, dieksplorasi mendalam melalui diskusi, drama tari dan pameran. "Namun kita tidak mau ini menjadi hanya one time, hit and run project. Lebih dari 'sekadar' pertunjukan, setelah ini kita perlu bertanya, so what?" kata Dr. Vivid F. Argarini mengajak anak muda memastikan, bahwa proses melatih diri menjadi lebih baik dengan berbudaya berjalan sustainable.


Vivid sebagai Motivator Pemuda menjadi narasumber mewakili remaja, dalam Bincang-bincang Budaya "SHiMA sebagai Icon Pemimpin Perempuan yang Sukses di Masa-nya", di Museum Tekstil Jakarta, Kamis (20/10/2016). Diskusi ini menyimak pemaparan ahli arkeologi dan epigrafi Pusat Arkeologi Nasional, Dr. Titi Surti Nastiti, serta motivasi dari pebisnis yang juga dosen dan penata tari, Dr. Sri Respatini Kusumastuti.


Ratu Shima, pemimpin Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, sangat disegani rakyatnya bahkan tersohor hingga kerajaan tetangga. Ia dikenal tegas menegakkan keadilan dan kebenaran tanpa pandang bulu. Termasuk ketika putranya sendiri yang terbukti bersalah.


Dr. Titi menuturkan betapa perempuan Jawa di masa lampau sudah giat berkarya, bukan hanya mengurus rumah tangga. Terbukti dari berbagai relief, banyak wanita digambarkan berdagang. Di kerajaan kuno, perempuan juga telah memimpin. Bahkan memegang tahta hingga 40 tahun, yang menunjukkan bahwa wanita juga sangat dapat diandalkan.

Sutradarai drama tari Ratu Shima, Putut Budi Santosa, dan Dr. Sri Respatini Kusumastuti
Dr. Sri Respatini menekankan, semangat Shima harus ada hingga masa sekarang. "Perempuan bisa sangat hebat. Dalam bisnis, wanita bahkan bisa lebih luwes dan cepat membangun jejaring," tuturnya memotivasi peserta yang memang kebanyakan perempuan, untuk berani berwirausaha.


Vivid yang seorang Doktor Manajemen Pendidikan menyoroti bahwa mengeksplorasi icon seperti Ratu Shima, bagi anak muda tak cukup selesai pada satu acara. Perlu menjadi program yang berkelanjutan. "Tidak hanya bangga dan me-review dari leluhur, tapi setelah itu mau apa? Karena kita adalah ambassador bagi diri sendiri. Kita perlu paham apa lagi yang dapat kita latih dan giatkan," kata Vivid yang pernah tampil menari Jawa klasik gaya Yogyakarta di Amerika Serikat. 

Ibu Nuniek H. Musawa (tengah), ibunda Dr. Vivid F. Argarini, pengusaha yang pada era 1970-an aktif menari Jawa klasik gaya Yogyakarta di Taman Ismail Marzuki
Ditegaskannya pula, dengan menyadari untuk melestarikan secara berkelanjutan, nantinya anak muda tidak sekadar belajar tradisi untuk formalitas. "Yang masih banyak terjadi, baru tergopoh-gopoh belajar tari tradisional ketika hendak ke luar negeri," imbuhnya.
  

Acara ini menjadi rangkaian Festival Museum yang tengah diselenggarakan di Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Wayang. Selama 15-30 Oktober 2016, di Museum Tekstil digelar Pameran Pertunjukan SHiMA Kalingga, menyajikan batik Kalingga karya Lucky Widjayanti, aksesories SHiMA Kalingga karya Manjusha Nusantara, juga foto pementasan drama tari SHiMA Kalingga koreografer Putut Budi Santosa.

Interaktif. Mbak Terry dari Majalah Femina
Sutradara dan penulis naskah drama tari Ratu Shima, Putut Budi Santosa menambahkan, ia ingin remaja memiliki role model yang asli Indonesia. Selama ini anak-anak lebih banyak tumbuh bersama icon dari luar, misalnya Snow White.



You Might Also Like

0 comments