Karena Hidup Sangat Berharga, dan Ujian adalah Emas Kehidupan

5:41 PM

Oleh : Dr. (Cand.) Vivid Argarini

Foto : Dok. Nada untuk Asa
"Aku sarjana S2 jurusan manajemen kesedihan," ucap Asa (Acha Septriasa) kepada Wisnu (Darius Sinathrya) saat diminta bercerita tentang dirinya. Sejak lahir, Asa mengidap penyakit yang membuatnya kerap didiskriminasi oleh masyarakat, bahkan membuatnya dipecat dari pekerjaan. Namun, tak ada alasan bagi Asa untuk putus asa dan merasa hancur.

Semua itu tak lepas dari perjuangan sang ibu, Nada (Marsha Timothy), dalam membesarkan Asa dan juga dua kakak Asa pasca kematian sang suami (Irgi Fahrezi) yang meninggalkan beban seumur hidup: Human Immunodeficiency Virus (HIV). Berani hidup. Bukan berani mati. Segala ujian dan beratnya hidup Nada atas kenyataan yang harus dihadapinya saat ia dinyatakan positif tertular HIV dari suaminya bersama Asa putrinya, membuat Nada harus membuat satu pilihan. Bertahan atau menyerah. Pilihan yang sulit bagi Nada. Walau akhirnya ia memilih bertahan dan lanjutkan hidup. Inilah film layar lebar, Nada untuk Asa.

Sebuah film apik dan inspiratif. Bertutur dengan gaya flashback, perjuangan menghadapi penyakit yang masih mendapat stigma mengerikan dari masyarakat ini berhasil diuntai indah dalam film yang diangkat dari sebuah kisah nyata yang dijadikan novel oleh Ita Sembiring.

Hidup adalah anugerah. Ujian adalah emas dalam kehidupan. Ada sebuah kisah menarik yang pernah saya baca. Ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik. Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati.

Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti. “Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon. Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”

Dengan sebal, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.” Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.

”Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.  Ia sadar.  “Aku manusia; kuat, dan sehat. Tidak pantas aku akhiri kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”. Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan.

Banyak orang yang hidup di dunia ini tidak memahami betapa hidup ini sangat berharga, akibatnya tidak sedikit yang mengakhiri dan menjalani kehidupan dengan sia-sia. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menghargai hidup? Dengan menyadari bahwa hidup adalah takdir dari Allah untuk kita jalani dengan sebaik mungkin karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah yang Maha memberikan hidup.

Seberat apapun ujian, ada hikmah dan kisah indah yang akan kita dapatkan jika kita berhasil melaluinya. Hidup adalah anugerah. Dan ujian adalah emas.  Life is so beautiful. Live it alive. Love it sincerely. Learn it thoroughly. Don't make it complicated.  (Dan Tahajud adalah kekuatan. Walau dua rakaat, yang penting doa kita panjang. Allah pasti akan kabulkan doa-doa kita. Karena Allah Maha baik.)

Salam hangat penuh semangat dariku....



~Vivid~

You Might Also Like

0 comments